Ada banyak hal yang
unik yang akan anda jumpai di dunia mahasiswa Unhas Makassar, salah satunya kentalnya
hukum senioritas yang berlaku di kampus tersebut, kalau tidak salah semua
kampus di Makassar berlaku hukum ini, namun tidak sekental di kampus Unhas. Walaupun
kebenarannya tidak bisa saya jaminkan, saya juga belum pernah melakukan survey akan
hal ini.
Pelabelan “ka” untuk
mahasiswa yang lebih duluan mengenyam pendidikan di bangku kuliah, dalam hal
ini senior, dan panggilan “de” untuk adik tingkat atau junior. Jadi pelabelan “ka/de”
bukan dilihat dari factor umur seperti lazimnya “ka” untuk yang lebih duluan
keluar dari rahim dan “de” untuk yang belakangan brojolnya.
Ketika di lihat
sepintas hal ini biasa-biasa saja, sekedar panggilan “ka” untuk yang angkatan
masuknya lebih tua, “de” untuk sebaliknya. Yah seperti biasanya, “ka” untuk
menggugurkan akan kesopanan, sebagai bentuk penghormatan kepada yang lebih tua.
Senioritas memang sudah
menjadi budaya yang mendarahdaging di dunia mahasiswa, sekaligus sudah jadi hukum
tersendiri yang berlaku di rimba belantara kampus. Ketika anda terlewatkan
menyebutkan “ka” saat berinteraksi kepada si senior, maka penghakiman tidak
sopan akan dijatuhkan kepada anda.
“Kalau mau di pikir ,buat
apa coba?, kau ini siapa yang harus dihormati?, pentingkah?”, inilah mungkin
cacian dalam hati si junior kepada si senior yang tidak akan terungkap
kepermukaan.
Nah, berbicara tentang
sopan-santun, minke dalam roman bumi manusia (Pramoedya AT) curiga sopan-santun
hadir sebagai bentuk legalitas atas penindasan kaum yang superior kepada mereka
yang lemah. Dan kalau kita mau liar berpikir, hadirnya budaya “ka-de”-pun
serupa akan hal itu. Keharusan memanggil “ka” kepada si senior,
dilatarbelakangi semata-mata karena ego si senior agung nan kuasa yang harus
selalu dihormati sebagai orang yang lebih duluan duduk di bangku kuliah,
semata-mata untuk memperlancar penindasan. Penindasan berlabelkan senioritas!
Kalau biasanya hukum senioritas
berlaku saat pengkaderan (dalam hal ini ospek), beda halnya di kampus ini, hukum
ini akan berlaku selama masa kuliah, hidup anda tidak akan tenang nan damai
selama masih ada angkatan yang lebih tua. Kata-kata “kau angkatan berapa” akan
selalu terngiang untuk selalu mengingatkan kembali hokum ini.
Melihat system senioritas
ini, saya sempat sepakat bahwa apa yang dicurigai pramoedya ada benarnya juga. Budaya
sopan-santun hadir untuk melegalkan penindasan kaum superior kepada yang lemah,
dalam hal ini sopan-santun yang berjubah senioritas. Keharusan memanggil “ka”
oleh si “ade’” kepada senior, sebagai wujud kesopansantunan si junior kepada si
senior. Bukankan ini suatu ketidakadilan, dimana si junior harus sopan dan
santun kepada senior, harus tunduk dan patuh kepada si senior, dan si senior
bisa seenaknya saja menindas si junior ?
Suatu ironi yang menggelitik,
mahasiswa yang selalu menggaungkan perlawanan terhadap ketidakadlian dan
penindasan tapi ternyata di dunia mahasiswa sendiri justru terjadi
ketidakadilan dan penindasan. Di kaderisasi diteteskan nilai perlawanan justru diproses
kaderisasi kita selalu ditindas. Aneh.....
Aneh, ya aneh memang tapi
inilah yang lazimnya terjadi hampir di setiap fakultas. Bukan Cuma itu, bahkan
akan anda jumpai dimana segelintir oknum senior pria menggunakan system ini
sebagai pelumas untuk menyalurkan libido seksualnya. Ah.. kalau kasus yang satu
ini tidak perlu dibahas lebih dalam.
Namun kalau toh memang
seperti itu, buat apa budaya yang terkesan menyesatkan seperti ini masih terus
di jaga ?
Yang perlu dipahami
sebenarnya, bahwa label “ka” kepada si senior dan “de” untuk si junior, bukan
semata-mata sebagai bentuk legalitas penindasan si senior kepada si junior
seperti yang dibahas di atas. Di balik label “ka/de” ada tali persaudaraan,
tali kasihsayang yang diharapkan akan selalu terjalin erat, di balik label “ka”
yang didapatkan si senior ada tanggungjawab besar yang harus di emban oleh si
senior, yaitu tanggungjawab untuk membimbing dan menjaga si junior. Namun nyatanya
hari ini, hanya segelintir senior yang agung nan kuasa menyadari akan tanggungjawab
yang harus dia emban.
SEKIAN
