Sabtu, 09 Maret 2013

“Nyanyian Sepi”



Saya yang kini tak terlihat,

Bersembunyi di balik tumpukan batu bata yang tersusun rapi, duduk termenung meratapi masa lalu yang kelam dibawah kaca jendela, sembari menikmati tembakau racikan anak bangsa yang tinggal menuggu waktu akan punah, musnah dari peredaran, akibat tiada henti-hintinya di gempur kutukan dan sumpah serapah.

Mengasingkan diri di tengah rawa yang sunyi, jauh dari peradaban yang biadab ini. Termenung, mencoba menerawang masa depan yang gelap. Ikan-ikan rawa sesekali menggoda, menggoda kucing hitam yang ternyata dari tadi juga merenung di teras depan. Entah apa yang ada dipikirannya, godaan ikan yang menari-nari di udara, melepaskan diri dari alamnya tidak di gubris.

Seorang diri, menjauh dari peredaran manusia-manusia kampus yang bebal. Menikmati si hitam pekat di tengah ribuan talas yang menari diiringi melodi alam, kumbang yang tiada malu bercumbu dengan pucuk depan mata, mentari di hari ini justru malu menyinari semesta, awan gelap dari segala penjuru siap menerkam bumi kembali dengan ribuan panah airnya.

Cukup sudah 1 pekan diri yang kotor ini, teralienasi. Hanya ditemani tumpukan kertas berjilid rapi yang setia mengantri, menanti untuk kujamah.

Kalau Erich Fromm mengatakan bahwa manusia cenderung tidak bisa lepas dari kehidupan social dan hidup bersosial adalah kebutuhan. Tapi entah, kali ini saya lebih memilih lari dari kehidupan sosial. Yah.. Sigmund Freud ada benarnya, pada dasarnya manusia anti sosial.
  

Minggu, 24 Februari 2013

Renungan Singkat Seputaran Senioritas



Ada banyak hal yang unik yang akan anda jumpai di dunia mahasiswa Unhas Makassar, salah satunya kentalnya hukum senioritas yang berlaku di kampus tersebut, kalau tidak salah semua kampus di Makassar berlaku hukum ini, namun tidak sekental di kampus Unhas. Walaupun kebenarannya tidak bisa saya jaminkan, saya juga belum pernah melakukan survey akan hal ini. 
        
Pelabelan “ka” untuk mahasiswa yang lebih duluan mengenyam pendidikan di bangku kuliah, dalam hal ini senior, dan panggilan “de” untuk adik tingkat atau junior. Jadi pelabelan “ka/de” bukan dilihat dari factor umur seperti lazimnya “ka” untuk yang lebih duluan keluar dari rahim dan “de” untuk yang belakangan brojolnya.

Ketika di lihat sepintas hal ini biasa-biasa saja, sekedar panggilan “ka” untuk yang angkatan masuknya lebih tua, “de” untuk sebaliknya. Yah seperti biasanya, “ka” untuk menggugurkan akan kesopanan, sebagai bentuk penghormatan kepada yang lebih tua.

Senioritas memang sudah menjadi budaya yang mendarahdaging di dunia mahasiswa, sekaligus sudah jadi hukum tersendiri yang berlaku di rimba belantara kampus. Ketika anda terlewatkan menyebutkan “ka” saat berinteraksi kepada si senior, maka penghakiman tidak sopan akan dijatuhkan kepada anda.

“Kalau mau di pikir ,buat apa coba?, kau ini siapa yang harus dihormati?, pentingkah?”, inilah mungkin cacian dalam hati si junior kepada si senior yang tidak akan terungkap kepermukaan.

Nah, berbicara tentang sopan-santun, minke dalam roman bumi manusia (Pramoedya AT) curiga sopan-santun hadir sebagai bentuk legalitas atas penindasan kaum yang superior kepada mereka yang lemah. Dan kalau kita mau liar berpikir, hadirnya budaya “ka-de”-pun serupa akan hal itu. Keharusan memanggil “ka” kepada si senior, dilatarbelakangi semata-mata karena ego si senior agung nan kuasa yang harus selalu dihormati sebagai orang yang lebih duluan duduk di bangku kuliah, semata-mata untuk memperlancar penindasan. Penindasan berlabelkan senioritas!

Kalau biasanya hukum senioritas berlaku saat pengkaderan (dalam hal ini ospek), beda halnya di kampus ini, hukum ini akan berlaku selama masa kuliah, hidup anda tidak akan tenang nan damai selama masih ada angkatan yang lebih tua. Kata-kata “kau angkatan berapa” akan selalu terngiang untuk selalu mengingatkan kembali hokum ini.

Melihat system senioritas ini, saya sempat sepakat bahwa apa yang dicurigai pramoedya ada benarnya juga. Budaya sopan-santun hadir untuk melegalkan penindasan kaum superior kepada yang lemah, dalam hal ini sopan-santun yang berjubah senioritas. Keharusan memanggil “ka” oleh si “ade’” kepada senior, sebagai wujud kesopansantunan si junior kepada si senior. Bukankan ini suatu ketidakadilan, dimana si junior harus sopan dan santun kepada senior, harus tunduk dan patuh kepada si senior, dan si senior bisa seenaknya saja menindas si junior ?

Suatu ironi yang menggelitik, mahasiswa yang selalu menggaungkan perlawanan terhadap ketidakadlian dan penindasan tapi ternyata di dunia mahasiswa sendiri justru terjadi ketidakadilan dan penindasan. Di kaderisasi diteteskan nilai perlawanan justru diproses kaderisasi kita selalu ditindas. Aneh.....

Aneh, ya aneh memang tapi inilah yang lazimnya terjadi hampir di setiap fakultas. Bukan Cuma itu, bahkan akan anda jumpai dimana segelintir oknum senior pria menggunakan system ini sebagai pelumas untuk menyalurkan libido seksualnya. Ah.. kalau kasus yang satu ini tidak perlu dibahas lebih dalam.

Namun kalau toh memang seperti itu, buat apa budaya yang terkesan menyesatkan seperti ini masih terus di jaga ?
Yang perlu dipahami sebenarnya, bahwa label “ka” kepada si senior dan “de” untuk si junior, bukan semata-mata sebagai bentuk legalitas penindasan si senior kepada si junior seperti yang dibahas di atas. Di balik label “ka/de” ada tali persaudaraan, tali kasihsayang yang diharapkan akan selalu terjalin erat, di balik label “ka” yang didapatkan si senior ada tanggungjawab besar yang harus di emban oleh si senior, yaitu tanggungjawab untuk membimbing dan menjaga si junior. Namun nyatanya hari ini, hanya segelintir senior yang agung nan kuasa menyadari akan tanggungjawab yang harus dia emban.

SEKIAN