Saya yang kini tak
terlihat,
Bersembunyi di balik
tumpukan batu bata yang tersusun rapi, duduk termenung meratapi masa lalu yang
kelam dibawah kaca jendela, sembari menikmati tembakau racikan anak bangsa yang
tinggal menuggu waktu akan punah, musnah dari peredaran, akibat tiada
henti-hintinya di gempur kutukan dan sumpah serapah.
Mengasingkan diri di
tengah rawa yang sunyi, jauh dari peradaban yang biadab ini. Termenung, mencoba
menerawang masa depan yang gelap. Ikan-ikan rawa sesekali menggoda, menggoda
kucing hitam yang ternyata dari tadi juga merenung di teras depan. Entah apa
yang ada dipikirannya, godaan ikan yang menari-nari di udara, melepaskan diri
dari alamnya tidak di gubris.
Seorang diri, menjauh
dari peredaran manusia-manusia kampus yang bebal. Menikmati si hitam pekat di
tengah ribuan talas yang menari diiringi melodi alam, kumbang yang tiada malu
bercumbu dengan pucuk depan mata, mentari di hari ini justru malu menyinari
semesta, awan gelap dari segala penjuru siap menerkam bumi kembali dengan
ribuan panah airnya.
Cukup sudah 1 pekan
diri yang kotor ini, teralienasi. Hanya ditemani tumpukan kertas berjilid rapi
yang setia mengantri, menanti untuk kujamah.
Kalau Erich Fromm
mengatakan bahwa manusia cenderung tidak bisa lepas dari kehidupan social dan
hidup bersosial adalah kebutuhan. Tapi entah, kali ini saya lebih memilih lari
dari kehidupan sosial. Yah.. Sigmund Freud ada benarnya, pada dasarnya manusia
anti sosial.

0 komentar:
Posting Komentar