Sabtu, 09 Maret 2013

“Nyanyian Sepi”



Saya yang kini tak terlihat,

Bersembunyi di balik tumpukan batu bata yang tersusun rapi, duduk termenung meratapi masa lalu yang kelam dibawah kaca jendela, sembari menikmati tembakau racikan anak bangsa yang tinggal menuggu waktu akan punah, musnah dari peredaran, akibat tiada henti-hintinya di gempur kutukan dan sumpah serapah.

Mengasingkan diri di tengah rawa yang sunyi, jauh dari peradaban yang biadab ini. Termenung, mencoba menerawang masa depan yang gelap. Ikan-ikan rawa sesekali menggoda, menggoda kucing hitam yang ternyata dari tadi juga merenung di teras depan. Entah apa yang ada dipikirannya, godaan ikan yang menari-nari di udara, melepaskan diri dari alamnya tidak di gubris.

Seorang diri, menjauh dari peredaran manusia-manusia kampus yang bebal. Menikmati si hitam pekat di tengah ribuan talas yang menari diiringi melodi alam, kumbang yang tiada malu bercumbu dengan pucuk depan mata, mentari di hari ini justru malu menyinari semesta, awan gelap dari segala penjuru siap menerkam bumi kembali dengan ribuan panah airnya.

Cukup sudah 1 pekan diri yang kotor ini, teralienasi. Hanya ditemani tumpukan kertas berjilid rapi yang setia mengantri, menanti untuk kujamah.

Kalau Erich Fromm mengatakan bahwa manusia cenderung tidak bisa lepas dari kehidupan social dan hidup bersosial adalah kebutuhan. Tapi entah, kali ini saya lebih memilih lari dari kehidupan sosial. Yah.. Sigmund Freud ada benarnya, pada dasarnya manusia anti sosial.
  

0 komentar:

Posting Komentar