Seminar Gerakan Mahasiswa Menulis
Buku (GMMB) yang kemarin diadakan di kampus unhas, gedung Baruga Andi Pangerang
Pettarani memotifasi mahasiswa yang sementara berada di semester sembilan ini
mendcoba kembali menorehkan keluh-kesah di blog. Keluh-kesah…. Agak norak
kayaknya kalau di bilang curhat. yah hanya
bisa menorehkan tulisan sampah di internet, belum bisa menyusun buku. Jangankan
menulis buku, publish tulisan saja enggan, bikin penuh-penuh saja blog. Serendah-rendahnya
iman menulis. Blog sepertinya hanya jadi pengganti buku diary. Yah setidaknya
belajar menulis lah, kalau katanya pramoedya, “menulis itu mengabadikan”,
walaupun hanya tulisan sampah. Maafkan… sepertinya
seminar kemarin yang di adakan di Baruga (sebutan anak unhas untuk gedung
Baruga AP pettarani) belum berhasil.
Baruga… gedung yang tiap tahunnya
di adakan seremonial penyambutan empat-lima ribu mahasiswa baru, sekaligus tempat
pelepasan juga empat-lima ribu wisudawan/wati tiap tahunnya. empat tahun sudah lamanya setelah saya di
sambut di gedung ini sebagai mahasiswa baru di program studi ilmu gizi Fakultas
kesehatan masyarakat. Artinya sudah empat tahun pula saya menghisap darah dan keringat
orang tua saya. Sebagai mahasiswa yang jurusannya
tidak terlalu ribet amat untuk menyelesaikan studi, empat tahun merupakan batas
normal untuk menyelesaikan studi.
Tapi toh ternyata saya tak
kunjung selesai juga. Walhasil saya harus merogoh kocek lagi bayar SPP Sebesar enam ratus ribu. Semester ini hanya enam ratus ribu. “hanya” bukan karena saya ini kaya, tapi setidaknya
ada sisa pembeli rokoklah dari kiriman orang tua, karena sebelum-sebelumnya
memang 750 ribu. Kebijakan baru dari rektor unhas, walaupun kebijakan ini
positif buat mahasiswa, tapi pejabat tetap saja pejabat, pertanyaan akan “maksud
baik saudara untuk siapa” tetap ada. Entah apa lagi maunya itu si paturusi.
Adduh… teori “masuknya susah,
lebih susah keluarnya” ternyata berlaku buat saya. masuk bangku kuliah memang
susah, tpi lebih susah lagi kalau mau keluar. Belum lagi sudah empat tahun tapi
ilnu yang di dapat dari basic disiplin ilmu kegizian hanya secuil yang didapat,
syukur-syukur kalau ada 30% yang di dapat, Ippang… ippang… apa yang kau bikin
selama kuliah??, yah memang selama ini saya lebih sibuk di organisasi kemahasiswaan
intra maupun ekstra. Hasilnya kalau mau dibandingkan lebih banyak tahu mana di
banding kegizian, mungkin lebih banyak tahu tentang filsafat dan pengetahuan sosial.
Sukanya baca buku-buku filsafat dibanding buku-buku yang berkaitan dengan
disiplin ilmu. Uuulalaa… salah masuk jurusan kayaknya bro…..
Sarjana oh sarjana… benar-benar
menyusahkan, berat, lebih berat dari memikul berkuintal-kuintal gabah. Untuk mengejar
title sarjana saya harus jadi “Pengecut yang bangsat”, dengan harus gantung “TOA”,
kehidupan yang dulunya bergelut di dunia perjuangan rakyat, di dunia organisasi
kemahasiswaan, harus di tanggalkan semua. Dan resikonya, harus teralienasi dari
teman-teman seperjuangan, harus mengalami kenelangsaan di dunia kampus. Betul-betul
tinggal sendiri teman-teman seangkatan sudah selesai pula… sungguh malang
nasib ini…
Teman-teman makan sepiring telah
meninggalkan satu persatu, tapi saya masih harus tinggal berjamur dikampus. Kalau
tidak salah masih ada sekitar 16 SKS yang harus saya penuhi untuk memperpanjang
nama menjadi Irfan, S.Gz. sebenarnya tinggal menyelesaikan skripsi, karena mata
kuliah yang lainnya tinggal menunggu nilainya keluar. Kepingin sih kepingin seperti teman-teman seangkatan
yang sudah selesai, tapi apalah daya. Ketika ketemu dengan mereka yang sudah
duluan dan di Tanya kapan nyusulnya?, reflex saya menangkis “belum mau jadi
pengangguran bro”. yah memang ironi di negeri antah berantah ini kalau mau jadi
sarjana, harus siap, ikhlas, rela sepenuh hati jadi pengangguran, itulah
Indonesia…
Telinga ini sudah begitu jenuh
mendengar peratanyaan dari orang tua “kapan seleasi?, kapan sarjananya nak?”. Pertanyaan
yang Lagi-lagi menguji kemampuan ngelesku, “sementara menyusun ma, judulku
ditolak terus ma, susah ketemu sama dosen pembimbing pa, cari bahannya susah
ma, cari referensinya sangat susah pa”. yayaya…. Belum lagi kalau ngumpul sama mereka-mereka
panas telinga ini, topiknya hanya seputaran lamaran kerja melulu. Sekali-sekali
saja saya nyerobot “sungguh merugilah kalian yang tidak sempat merasakan
turunnya SPP”… pembenaran… walaupun besar keinginan untuk seperti mereka-mereka
yang sudah duluan.

0 komentar:
Posting Komentar